Print This Post Print This Post
Home / Berita Pilihan / AGC dan AMAN Sulut Support Pemerintah Daerah Laksanakan Konvensi Minamata

AGC dan AMAN Sulut Support Pemerintah Daerah Laksanakan Konvensi Minamata

Suasana workshop yang diikuti perwakilan dari instansi terkait dari kabupaten dan kota se-Sulut.(Foto: gyp)
Suasana workshop yang diikuti perwakilan dari instansi terkait dari kabupaten dan kota se-Sulut.(Foto: gyp)

 

MANADO, Swarakawanua-Meskipun terbilang sedikit, namun merkuri di sektor pertambangan di Sulut masih digunakan. Hal itu dikatakan Country Project Manager Artisanal Gold Council (AGC) Agni Pratama. “Ada yang pakai merkuri tapi tidak masif seperti saat belum ada pengetahuan tentang bahaya merkuri, belum ada larangan perdagangan merkuri, sehingga cukup banyak pertambangan skala kecil yang menggunakan merkuri,” katanya di sela-sela Workshop Konvensi Minamata dan Penyusunan Rencana Aksi Daerah dan Nasional, di Hotel Four Points By Sheraton Manado.
Workshop digagas Dinas Lingkungan Hidup Provinsi bekerjasama dengan Artisanal Gold Council (AGC) melalui Program Emas Rakyat Sejahtera dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulut.
Yun Insiani, Direktur Pengelolaan Bahan Berbahaya Beracun, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mengungkapkan, tujuan dari Workshop Konvensi Minamata ini adalah untuk membangun pemahaman yang mumpuni tentang Konvensi Minamata dan pelaksanaannya di tingkat nasional dan daerah; meninjau Iebih Ianjut langkah-langkah yang perlu diambil dalam mempromosikan, membatasi, mengurangi dan menghilangkan penggunaan merkuri dan emisinya. ”Workshop Konvensi Minamata ini dilakukan juga sebagai media untuk menjembatani kebutuhan khusus Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan Konvensi Minamata dan koordinasi terkait dengan Rencana Aksi Nasional dan Daerah. Hal ini penting dilakukan karena komitmen Indonesia dalam penghentian penggunaan merkuri di berbagai sektor pada tahun 2021 mendatang. Berbagai percepatan harus dilakukan dan dukungan dari berbagai sektor diperlukan,” urainya.
Diharapkannya workshop tersebut akan dapat menghasilkan manfaat yang nyata serta menjadi jembatan dan katalis untuk transfer pengetahuan dan teknologi sehingga dapat menjadi titik tolak penghapusan merkuri dan menjadi solusi bagi permasalahan yang terjadi pada kegiatan pertambangan emas rakyat di Indonesia. Hadir dalam workshop, Ketua AMAN Sulut Lefrando Gosal dan tim di antaranya Rickson Karundeng.
Pada kesempatan yang sama, Agni Pratama selaku Country Project Manager dari AGC menyampaikan, bahwa ”AGC melalui Program Emas Rakyat Sejahtera berkomitmen untuk turut membantu Pemerintah Indonesia dalam upaya penghentian merkuri melalui peningkatkan tatanan kehidupan para penambang emas skala kecil yang berada di Sulawesi Utara melalui tiga pilar pendekatan yaitu: 1) peningkatan praktik yang Iebih baik (improved practice) terkait teknis, penanganan lingkungan, kesehatan, jender sensitif dan praktik bisnis bagi para penambang emas; 2) membangun tatanan kebijakan yang mendukung kegiatan penambang emas skala kecil yang ramah |ingkungan; 3) membangun kerjasama dengan sektor swasta agar terjadi rantai pasokan emas asal pertambangan rakyat skala kecil yang ramah lingkungan. Saat ini AGC bekerja di tiga wilayah yaitu Tatelu (Sulawesi Utara), Tobongon (Sulawesi Utara) dan Parenggean (Kalimantan Tengah).
Sementara Artisanal Gold Council (AGC) adalah Iembaga non-profit berbasis di Kanada, melalui “Program Emas Rakyat Sejahtera (PERS) berkomitmen untuk meningkatkan kondisi sosio-ekonomi dan lingkungan dari komunitas penambang emas skala kecil di Indonesia. Saat ini AGC bekerja di tiga wnlayah yaitu Tatelu (Sulawesi Utara), Tobongon (Sulawesi Utara) dan Parenggean [Kalimantan Tengah). AGC bekerjasama dengan mitra strategis dari institusi pemerintah seperti Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.(gyp)

About Peggy Sampouw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *