Print This Post Print This Post
Home / Berita Pilihan / Kerjasama YSYI, BPMS GMIM Bakal Keluarkan Imbauan Pengucapan Tanpa Konsumsi Satwa Liar Dilindungi

Kerjasama YSYI, BPMS GMIM Bakal Keluarkan Imbauan Pengucapan Tanpa Konsumsi Satwa Liar Dilindungi

 

Ketua BPMS GMIM Pdt Dr Hein Arina diapit Ketua YSYI Yunita Siwi SP, dan Duta Yaki Indonesia Dra Khouni Lomban-Rawung, usai penandatangan MoU, di kantor Sinode GMIM, Tomohon, Kamis 13 Juni 2019.(Foto: ist)
Ketua BPMS GMIM Pdt Dr Hein Arina diapit Ketua YSYI Yunita Siwi SP, dan Duta Yaki Indonesia Dra Khouni Lomban-Rawung, usai penandatangan MoU, di kantor Sinode GMIM, Tomohon, Kamis 13 Juni 2019.(Foto: ist)

TOMOHON, Swarakawanua– Menjelang musim pengucapans syukurdi Minahasa, Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (BPMS GMIM) bakal mengeluarkan imbauan untuk tidak mengonsumsi satwa liar dilindungi dalam perayaan hari-hari besar gereja. Ini adalah salah satu komitmen GMIM bersama Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia (YSYI) yang dikukuhkan melalui Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani Kamis 13 Juni 2019 di kantor Sinode GMIM, di Tomohon.

Tampak hadir dalam penandatanganan, Duta Yaki Indonesia Dra Khouni Lomban Rawung MSi yang juga sebagai pemrakarsa kerjasama, dan Ketua YSYI Yunita Siwi SP, sementara dari pihak BPMS hadir langsung Ketua Sinode GMIM Pdt Dr. Hein Arina dan Sekretaris
BPMS Pdt. Evert Andri Alfonsius Tangel, S.Th, M.Pd.K.
Menurut Yunita, Ketua Sinode GMIM Pdt Dr Hein Arina menyambut baik kerjasama ini dan berharap kerjasama ini mendukung program bersama pengurangan sampah plastik. “Dan akan mengeluarkan imbauan untuk tidak mengonsumsi satwa liar dilindungi dalam perayaan hari-hari besar gereja,” ungkap Yunita.
YSYI menyadari akan pentingnya peran gereja dalam mengubah pola pikir masyarakat terkait dengan konsumsi dan perdagangan satwa liar yang ada di Sulawesi utara. “Penurunan populasi satwa liar semakin hari semakin memprihatinkan. Tantangan konservasi di Sulut sangatlah beragam. Untuk itu perlu adanya kerjasama dari semua pihak dalam menyelamatkan keanekaragaman hayati dari ancaman kepunahan. GMIM adalah salah satu pemegang kunci keberhasilan konservasi di Sulut. Dengan keterlibatan gereja maka diharapkan akan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap satwa liar Sulawesi yang endemik, dilindungi dan hampir punah ini,” jelasnya.
Karena itu, tujuan dari kerjasama ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati yang merupakan ciptaan Tuhan yang ada di Sulut lewat khotbah dan kegiatan konservasi. “Gereja telah mendapatkan mandat untuk mengelola, mengusahakan dan memelihara bumi sejak Adam dan Hawa ditempatkan di taman Eden,” imbuhnya.
Sementara, Dra Khouni Lomban Rawung. MSi sebagai Duta Yaki Indonesia, mendorong baik dari pihak GMIM maupun YSYI dalam menjalin kerjasama ini, bersama-sama tidak lelah dalam menjaga lingkungan, dari sampah plastik dan konsumsi satwa liar yang dilindungi. Duta Yaki Indonesia Ini sudah mendedikasikan dirinya untuk turut berjuang di mana saja dan kapan saja untuk lingkungan yang bersih dan lestari.
Disaat yang sama diserahkan tumbler dari YSYI dan kantong belanja jaring asli buatan Kota Bitung dari Duta Yaki Indonesia Dra Khouni Lomban Rawung MSi untuk BPMS, sebagai komitmen untuk mengurangi penggunaan plastik.(gyp)

About Peggy Sampouw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *