Print This Post Print This Post
Home / Berita Pilihan / Maret 2019, Angka Kemiskinan Sulut Turun 0,14 Point Dibanding Maret 2018

Maret 2019, Angka Kemiskinan Sulut Turun 0,14 Point Dibanding Maret 2018

Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Wagub Sulut Steven Kandouw.
Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Wagub Sulut Steven Kandouw.

MANADO, Swarakawanua—Operasi Daerah Selesaikan Kemiskinan atau ODSK, program andalan Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw, terus menekan angka kemiskinan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut menunjukkan, terjadinya penurunan angka kemiskinan Sulut pada periode Maret 2019 sebesar 7,66 persen, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Maret 2018 yang besarnya 7,80 persen.  Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut Ateng Hartono menjelaskan, bahwa terjadi penurunan sebesar 0,14 point.

Jika angka kemiskinan pada Maret 2019 dibandingkan dengan September 2018, terjadi kenaikan 0,07 point.  Meski begitu, angka 7,66 persen ini masih memosisikan Sulut sebagai provinsi dengan angka kemiskinan terkecil dibandingkan provinsi lainnya di Pulau Sulawesi. Begitu juga, persentase kemiskinan di Sulut berada di bawah nasional yang besarnya 9,41 persen.

Menurut penjelasan Kepala BPS Sulut, untuk periode Maret 2019 dibandingkan September 2018, jumlah penduduk miskin di perkotaan meningkat. Namun di sisi lain, peningkatan  jumlah penduduk miskin di perkotaan, diimbangi oleh penurunan jumlah penduduk miskin di pedesaan. Pada Maret 2019 penduduk miskin di perkotaan sebanyak 65,49 ribu jiwa atau sekitar 5,01 persen dari total penduduk perkotaan. Sedangkan pada bulan September jumlah penduduk miskin perkotaan sebanyak 62,11 ribu jiwa atau 4,82 persen. Dan  jumlah penduduk miskin di pedesaan pada bulan September 2018 sebanyak 126,93 ribu atau sekitar 10,57 persen dari total penduduk di pedesaan. Pada Maret tahun 2019 turun menjadi 126,20 ribu atau sekitar 10,56 persen dari total penduduk pedesaan.

 

Yang menarik, meski pada periode Maret 2019 jumlah penduduk miskin di perkotaan naik 0,07 point, namun rata-rata pengeluaran penduduk miskin di perkotaan cenderung semakin jauh dari garis kemiskinan. Hal ini ditunjukkan oleh angka peningkatan indeks kedalaman kemiskinan dari 0,627 pada bulan September 2018 menjadi 0,773 pada bulan Maret 2019. Yang harus menjadi perhatian pemerintah adalah, untuk pedesaan, indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan Maret 2019 lebih rendah dibandingkan dengan September 2018. Karena hal ini berarti rata-rata pengeluaran penduduk miskin pedesaan semakin mendekati garis kemiskinan serta juga ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin semakin rendah.

Hartono kemudian menguraikan faktor-faktor yang memiliki kecenderungan berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan selama periode September 2018 dibandingkan Maret 2019. “Faktor pertama adalah, selama periode September 2018 – Maret 2019 terjadi inflasi atau peningkatan harga-harga secara umum sebesar 2,54 persen, dimana kelompok bahan makanan mengalami inflasi paling tinggi, yaitu mencapai 6,99 persen. Kedua, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk pada kelompok 40 persen menengah dan 20 persen teratas mengalami penurunan dibanding September 2018, yaitu secara berurutan sebesar 1,03 persen dan 0,80 persen. Sehingga secara total, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk mengalami penurunan 0,25 persen,” jelas Hartono dalam keterangan resmi BPS Sulut.

Faktor yang ketiga adalah, pada periode Agustus 2018 – Februari 2019, persentase pekerja rentan mengalami peningkatan sebesar 2,20 persen poin. Pekerja Rentan adalah pekerja yang mempunyai status berusaha sendiri, pekerja bebas (pertanian dan nonpertanian), dan pekerja keluarga/pekerja tidak dibayar. “Pekerja ini rentan terhadap gejolak ekonomi dengan kondisi kerja di bawah standar, risiko tinggi, berpenghasilan rendah dengan tingkat kesejahteraan di bawah rata-rata. Faktor keempat, khusus untuk perkotaan, berdasarkan hasil Susenas Maret 2019 maka diperoleh rata-rata pengeluaran perkapita perbulan pada semua kelompok lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan Garis Kemiskinan Perkotaan, ini menyebabkan kemiskinan di perkotaan naik,” imbuhnya dengan menambahkan, sebagai bahan perbandingan, rata-rata pengeluaran perkapita perbulan pada kelompok desil bawah di pedesaan lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan Garis Kemiskinan pedesaan. Hal tersebut menyebabkan kemiskinan di daerah pedesaan menurun.(gyp)

About Peggy Sampouw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *