Print This Post Print This Post
Home / Berita Pilihan / ODSK Berhasil, Pengangguran Turun Hingga 5,37 Persen

ODSK Berhasil, Pengangguran Turun Hingga 5,37 Persen

Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw
Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw.

 

MANADO, Swarakawanua–Operasi Daerah Selesaikan Kemiskinan (ODSK), program terintegrasi untuk mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran di Sulut yang digagas Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw sejak awal memimpin Sulut terbukti manjur. Salah satu indikator positif adalah turunnya angka pengangguran di daerah Nyiur Melambai ini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan,
pada tahun 2015, di awal memimpin Sulut, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menyentuh angka 9,03 persen. Namun selang tiga tahun kemudian, angka pengangguran turun tajam di angka 5,37 persen pada Februari 2019. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terjadi penurunan 0,72 poin.
Untuk diketahui, TPT adalah indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak digunakan atau tidak terserap oleh pasar kerja.
Adapun jumlah angkatan kerja Sulawesi Utara pada Februari 2019 tercatat sebanyak 1,19 juta orang dan yang bekerja ada 1,13 juta orang. Dari 1,13 juta orang yang bekerja, 7,85 persen di antaranya termasuk kategori setengah penganggur dan 19,91 persen termasuk kategori pekerja paruh waktu.
Sementara itu, masih menurut data BPS, jumlah penduduk Sulut yang bekerja pada setiap kategori lapangan pekerjaan menunjukkan kemampuan dalam penyerapan tenaga kerja. Struktur penduduk bekerja menurut lapangan pekerjaan pada Februari 2019 masih didominasi oleh tiga lapangan pekerjaan utama, yaitu pertanian sebesar 24,27 persen, perdagangan sebesar 17,83 persen dan industri pengolahan sebesar 11,19 persen.
Dilihat berdasarkan tren sektoral selama Februari 2018 Februari 2019, lapangan pekerjaan di Sulut yang mengalami peningkatan persentase penduduk bekerja adalah industri pengolahan (3,85 persen poin), administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib (2,16 persen poin), jasa pendidikan (1,01 persen poin), transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi (0,60 persen poin), jasa kesehatan dan kegiatan sosial (0,52 persen poin), jasa keuangan asuransi (0,26 persen poin), dan real estate dan jasa perusahaan (0,16 persen poin).
Turunnya angka pengangguran di Sulut ditanggapi Wakil Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Sulut Oldy Rotinsulu. Menurutnya, keberhasilan Pemprov Sulut mengelola APBD melalui berbagai program pembangunan yang pro kesejahteraan masyarakat seperti ODSK menjadi kunci turunnya angka pengangguran. “Menurunnya angka pengangguran berarti pemerintah mampu mengoptimalkan pengunaan APBD demi kesejahteraan masyarakat Sulut,” katanya.
Sementara itu, pengamat ekonomi Gerdi Worang menerangkan pembangunan ekonomi Sulut telah tepat sasaran. Turunnya angka pengangguran searah dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi Sulut di Kuartal I tahun 2019 sebesar 6,58 persen dibandingkan dengan akhir tahun 2018 sebesar 6,01 persen.
“Ada daerah yang pertumbuhan ekonominya naik tetapi penganggurannya tidak turun. Namun di Sulut pembangunannya sudah tepat sasaran karena pertumbuhan ekonominya naik dan angka penganggurannya turun,” imbuhnya.(hms)

About Peggy Sampouw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *