Akibat Pernikahan Dini, Empat Siswi SMP Di Kabupaten Mitra Tak Ikut UN

oleh -209 Dilihat

MITRA, Swarakawanua.com– Sebanyak 1890 siswa dan siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) terdaftar ikut Ujian Nasional (UN) di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), sedangkan yang ikut dalam pelaksanaan UN sebanyak 1852, tidak ikut UN sebanyak 38 orang termasuk didalamnya ada 4 siswi yang dinyatakan tidak ikut ujian diakibatkan telah menikah.

Disaat ditemui Swarakawanua.com Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mitra Drs. Ascke Benu, lewat Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Laurents Manoppo SE, MM mengatakan, pelaksaan UN di tingkat SMP dan SD sudah selesai melaksanakan dengan baik dan berjalan lancar.

“Untuk pengumuman hasil nantinya akan diumumkan pada tanggal 4 Juni tahun 2021, ini berdasarkan peraturan jendral Mendikbud menetapkan. Tingkat SMP pada tanggal 4 Juni 2021, sedangkan untuk tingkat SD pada tanggal 15 Juni 2021,” ujar Kabid Dikdas diruang kerjanya.

Adapun ujar lelaki lulusan Pasca Sarjana Ekonomi Unsrat tersebut, dalam pelaksaan Ujian Nasional di tingkat SMP yang terdaftar sebanyak 1890 siswa dan siswi. Sedangkan yang ikut dalam pelaksanaan ujian 1853 orang, sedangkan yang tidak ikut sebanyak 38 orang. Didalamnya ada sebanyak 4 Siswi secara aturan dinyatakan tidak lulus akibat telah menikah.

“Ada sebanyak 4 siswi yang secara aturan tidak bisa ikut dalam UN dikarenakan sudah menikah,” ucap Manoppo.

Maka berdasarkan aturan pendidikan formal yang berhak duduk dalam UN yaitu siswa dan Siswi yang belum menikah, sedangkan ikatan dinaspun dilarang menikah apa pula dalam tingkatan SMP. Sedangkan langkah telah kami tempu terutama Bidang Dikdas Kabupaten, sudah memberikan kepada PAUD Dikmas untuk mengambil para siswa dan siswi yang putus sekolah.

“Karena itu kami menghimbau kepada para orang tua siswa dan siswi baik tingkat SD maupun SMP di Kabupaten Mitra, untuk melakukan pengawasan lebih. Dikarenakan tugas dari para tenaga pendidik mendidik para siswa dan siswi disekolah, lepas dari sekolah. Sepenuhnya sudah merupakan tugas dan tanggung jawab dari para orang tua,” pungkas Manoppo.

Meski demikian iapun berharap, dengan kejadian seperti ini dimasa Pademi Covid-19 kami mengajak marilah kita saling bahu membahu, bekerjasama baik para orang tua melakukan pengawasan lebih terutama bagi para siswi dengan berbagai perkembangan teknologi saat ini.

“Kejadian seperti ini menjadi pelajaran buat kita, serta perlu adanya peran serta aktif dari semua pihak. Baik para tenaga pendidik, terutama orang tua untuk terus menjaga para anak-anak kita yang masih duduk di bangku sekolah. Jangan sampai kejadian ini terjadi kembali,” tutup singkatnya. (CIA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.