Gubernur Olly Hadiri Rakornas TPKAD yang Dibuka Presiden Jokowi

oleh -156 Dilihat
Gubernur Sulut Olly Dondokambey SE bersama Menkeu Sri Mulyani Indrawati di acara Rakornas TPKAD.(Foto: ist)
Gubernur Sulut Olly Dondokambey SE bersama Menkeu Sri Mulyani Indrawati di acara Rakornas TPKAD.(Foto: ist)

 

JAKARTA, Swarakawanua– Presiden RI Joko Widodo membuka Rakornas Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) yang digelar di Jakarta, Selasa 10 Desember 2019. Gubernur Sulut Olly Dondokambey SE tampak duduk di barisan depan para peserta Rakornas yang turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso.
Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mendorong pemerintah daerah mempercepat akses keuangan masyarakat karena tingkat literasi masih tergolong rendah yakni 35 persen dan inklusi keuangan sebesar 75 persen. “Kita ingin mengajak seluruh daerah agar bisa mendorong rakyat kita untuk bisa akses ke keuangan, harus kita percepat,” kata Jokowi.
Presiden juga mendorong percepatan akses keuangan masyarakat baik untuk akses menabung dan kredit.
Untuk menabung, Kepala Negara mendorong agar anak-anak sejak dini dari SD, SMP hingga SMA/SMK diedukasi menabung dan bisa mengakses ke perbankan.
Urusan menabung itu, lanjut dia, banyak berkaitan dengan tugas dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
“Masih kita memiliki ruang besar mendorong masyarakat agar bisa mengakses ke keuangan yang kita miliki,” imbuh Presiden RI.

Sementara itu, untuk urusan kredit, mantan Gubernur DKI Jakarta itu menyebut sudah ada program Bank Wakaf Mikro (BWM) yang saat ini ada di 55 pondok pesantren dan akan terus ditambah.

Kepala Negara mencermati hingga saat ini sudah terbentuk kelompok usaha yang akan menjadi klaster untuk kemudian akan dipayungi menjadi semacam holding.

Dengan begitu, kata dia, usaha mikro dan kecil akan mudah mengakses market place pemasaran nasional dan global.

Untuk UMKM, lanjut dia, juga ada PNM Mekar dengan plafon mencapai Rp 32 triliun yang saat ini memiliki 5,9 juta nasabah dengan pengambilan kredit yang bisa ditingkatkan hingga Rp10 juta

“Ini juga sama, ekosistem sudah terbentuk tinggal kita ini membawa bagaimana agar mereka bisa naik kelas, tapi memang ini memerlukan waktu,” ucapnya.

Meski tergolong pembiayaan dengan nominal kecil, namun angka kredit macet masih kecil di bawah satu persen. “Artinya kecil-kecil ini justru memiliki kedisiplinan, kejujuran dan memiliki itikad baik untuk mengembalikan,” ujarnya.

Pemerintah, kata dia, menambah ruang untuk pembiayaan kecil seperti kredit usaha rakyat (KUR) yang ditambah plafonnya menjadi Rp190 triliun tahun 2020 dari Rp140 triliun tahun 2019 hingga tahun 2024 plafon ditingkatkan menjadi Rp325 triliun untuk UMKM. “Apa yang kita inginkan, daerah ikut mendorong, membantu masyarakat untuk bisa mengakses itu, buatlah kelompok-kelompok usaha, carikan channel ke perbankan, carikan KUR tapi dalam kelompok yang jumlahnya semakin besar semakin baik, ini tugas daerah,” katanya.(hbm/gyp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.