Kecepatan Transmisi Menyerupai Varian Baru, WFH, Ibadah Daring dan Beberapa Hal Ini Disampaikan Satgas Covid-19 Sulut

oleh -327 Dilihat
Grafik tanda terjadinya peningkatan eksponensial kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Sulut.(Foto: Satgas Covid-19 Sulut)

 

MANADO, Swarakawanua.com– Pertambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Sulut, pada Sabtu 3 Juli 2021, mencatat angka yang cukup besar yakni 143 kasus.

Menurut catatan Satgas Covid-19 Provinsi Sulut, trend pertambahan kasus positif harian di Sulut pasca libur hari raya menunjukkan peningkatan mencapai 200%, atau meningkat rata-rata 15 kasus per hari. Sementara sebelum hari raya, per hari dideteksi rata-rata hanya 5 kasus per hari. Akan tetapi pada akhir Juni dan awal Juli ini trend pertambahannya
menunjukan tanda terjadinya peningkatan eksponensial (lihat grafik).

Dalam keterangan resminya, Satgas Covid-19 Provinsi Sulut menguraikan, pelipatgandaan kasus terjadi dengan cepat dan dalam periode waktu yang lebih
pendek dimana berdasarkan trend 7 days moving average. Rata-rata per hari 5 kasus
berlipat menjadi 10 kasus per hari dalam 21 hari. Kemudian meningkat menjadi 20
kasus per hari dalam kurun waktu 12 hari, dan naik menjadi rata-rata 40 kasus
per hari dalam waktu 9 hari. “Kecurigaan bahwa fenomena ini disebabkan oleh
adanya penyebaran Variant of Concern (VoC) yaitu Alfa, Beta, Delta dan Kappa, belum bisa
dipastikan karena pemeriksaan genomik sequencing yang telah dikirimkan oleh
Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pencegahan Penyakit Manado ke Pusat
Litbangkes Kemenkes RI, sampai saat ini belum ada hasil. Akan tetapi pada
beberapa cluster yang terjadi di Sangihe, Tomohon, Manado dan juga Bitung
menunjukkan kecepatan transmisi yang menyerupai Variant of Concern ini,” jelas Bagian Kehumasan Satgas Covid-19 Provinsi Sulut dr Steaven P Dandel MPH.

Peningkatan ini tentunya secara otomatis membuat beban bagi pelayanan kesehatan makin terlihat jelas. Dalam kurun waktu 3 minggu angka keterisian Ruang Isolasi dan Ruang ICU Covid 19 (Bed Occupational Rate/BOR) di Rumah Sakit Rujukan Covid-19, meningkat dengan cepat.

Dalam waktu 17 hari keterisian Bed Isolasi meningkat dari 8% menjadi 25%. Bahkan pada beberapa kabupaten/kota keterisiannya sudah di atas 50%.
Semakin banyak orang yang sakit, maka otomatis makin banyak yang perlu
dirawat di ruang perawatan intensif dan makin banyak juga kematian yang dilaporkan.

Sementara itu, gambaran kegiatan testing juga menunjukkan tanda-tanda
memburuk dimana positivity rate Provinsi Sulawesi Utara meningkat dari 2,5% pada
bulan Mei 2021 dan posisi terkini sudah mencapai angka di atas 10%, lebih tepatnya ada di angka 12,31%. Angka ini
mengindikasikan bahwa dari setiap 100 sampel yang diperiksa akan terdapat 12
sampai dengan 13 kasus positif. Kondisi ideal yang menunjukkan bahwa transmisi
terkendali, seharusnya berada di bawah 5%.

Mencermati semua data di atas, Satgas Covid 19 Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, menyampaikan beberapa poin penting (lihat grafis).(gyp)

Hal Penting yang Disampaikan Satgas Covid-19 Provinsi Sulut Terkait Meningkatnya Kasus Terkonfirmasi Positif Covid-19 di Sulut

1. Walaupun secara laboratorium belum ada bukti adanya keberadaan Variant of Concern (VoC) di Sulawesi Utara, tetapi perkembangan kondisi epidemiologik dan kecepatan transmisi dari beberapa kasus menunjukkan adanya kemungkinan bahwa yang sementara beredar di Sulawesi Utara pada saat ini adalah VoC ini.

2. Pola transmisi dari VoC ini berdasarkan laporan investigasi dari negara dan daerah lain di Indonesia adalah lebih cepat, menjangkiti lebih banyak orang dan adanya kemungkinan yang sangat tinggi bahwa transmisinya bersifat aerosol/ airborne. Penularan aerosol/airborne adalah penularan yang disebabkan karena menghirup partikel virus yang
mengambang di udara. Pada penularan airborne, orang yang infeksius mengeluarkan partikel virus ini lewat batuk atau bersin yang melayang di udara dan bisa bertahan sampai 16 jam. Sehingga mereka yang tidak
memakai masker akan sangat mudah terinfeksi.

3. Dengan pola transmisi seperti ini maka masyarakat diimbau untuk menaikkan kewaspadaannya ke titik tertinggi.
•Pemakaian masker menjadi hal yang wajib dilakukan.
•Pola kerja dari rumah diimplementasikan kembali. •Sirkulasi udara ruangan kerja harus diperbaiki.
•Menghindari makan bersama,
karena pada saat makan bersama otomatis masker akan dibuka.
•Menghindari acara-acara di tempat tertutup dan padat. •Menghindari kerumunan ke manapun kita pergi. •Acara-acara resepsi dengan kehadiran lebih dari 30 orang sebaiknya dihindari.

•Pelaksanaan ibadah dan perayaan sebaiknya melalui daring.(*)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.