ODSK Hadiri Selebrasi Paskah AEYA, Ini Nasehat MenkumHAM Untuk Pemuda Gereja…

oleh -340 Dilihat

IMG-20180408-WA0047

SULUT, Swarakawanua.com – Dihadapan Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw (ODSK), Menteri Hukum dan HAM Indonesia, Yasonna Laoly menasehati semua pemuda gereja Sulut maupun di Indonesia untuk mensyukuri anugerah Tuhan yang besar karena telah bangkit dari maut untuk menebus dosa manusia.

Hal tersebut dikatakan Menteri Hukum dan HAM RI Yasonna Laoly saat menghadiri selebrasi paskah dalam gelaran asian ecumenical youth assembly (AEYA) yang digelar Minggu (8/4) bertempat di lapangan maesa Tondano Kabupaten Minahasa, yang juga dihadiri oleh Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw.

Menurut Laoly, dengan kematian dan kebangkitan Kristus yang diperingati dalam Paskah merupakan kebenaran bagi kehidupan manusia dan merupakan anugerah yang besar, dimana Tuhan telah memberikan anaknya yang tunggal untuk menebus dosa manusia.

“Untuk itu kaum muda diminta memaknai sungguh pengorbanan Kristus dengan menjadi agen perubahan, menyampaikan berita kebenaran bagi dunia sehingga damai sejahtera selalu ada dalam kehidupan manusia. Kaum muda harus menebar bibit kasih perdamaian dengan adanya kemajemukan masyarakat di Indonesia,” serunya.

Ibadah Paskah tersebut dipimpin oleh ketua Persatuan Gereja Indonesia (PGI) Pdt. Henriette T. Hutabarat-Lebang. Dalam khotbah juga kaum muda gereja diajak untuk menjadi agen pemersatu bangsa menjadi murid Kristus yang memiliki integritas, menjauhi berita hoax serta tetap memberitakan kebenaran.

Melalui asian ecumenical youth assembly ini juga diharapkan kamu muda asia bisa menjaga kemajemukan sehingga terjadi hubungan yang baik antar sesama negara Asia.

Ibadah paskah tersebut turut dihadiri oleh Presiden Christian Conference of Asia (CCA) Pdt WTP Simarmata MA, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Pdt. Dr. Henriette Tabita Lebang, M.Th, The first Youth Secretary of CCA Bishop Dr. Soritua A.E. Nababan, Dubes RI untuk Serbia Montenegro Bapak Harry James Kandouw, Ketua Sinode GMIM Pdt. Dr. Hein Arina, Sekdaprov Edwin Silangen, SE, MS, Ketua TP PKK Sulut selaku Ketua Umum Panitia Ir. Rita Maya Dondokambey-Tamuntuan, Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat selaku Wakil Ketua Umum Panitia dr. Kartika Devi Kandouw-Tanos, MARS, para pejabat Pemprov Sulut, para peserta AEYA dan juga dimeriahkan oleh juara Indonesia Idol 2004 dan 2016 Joy Tobing dan Regina. Selesai ibadah, dilanjutkan dengan pawai paskah diikuti oleh seluruh peserta.

IMG-20180407-WA0042

Penunjukkan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) sebagai lokasi pelaksanaan Asian Ecumenical Youth Assembly (AEYA) 2018 dinilai tepat, pasalnya sampai saat ini Sulut masih menjadi daerah dengan stabilitas keamanan yang terkendali.

“Baik ditengah-tengah pluralitas atau keberagaman etnis, religi, budaya dan adat istiadat, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu daerah teraman dan daerah toleran, dengan indeks toleransi tertinggi pertama serta indeks kebahagiaan tertinggi ketiga di Indonesia,” jelas Gubernur Olly saat pembukaan AEYA 2018 di Grand Kawanua International Convention Centre Manado, Sabtu (7/4).

“Karena Torang Samua Ciptaan Tuhan sehingga semua kegiatan yang kita jalani harus bersandar kepada Tuhan sebagai Kepala Gereja,” lanjutnya disambut tepuk tangan ratusan peserta.

Sebagaimana diketahui, pelaksanaan AEYA 2018 di Sulut mampu memberikan platform regional bagi lebih dari 350 anak muda Kristen di Asia untuk berkumpul, menjalin persaudaraan, dan mengembangkan jaringan ekumenis muda Asia.

Dalam hal ini, Olly berterima kasih kepada Pemerintah Pusat dan kaum muda Kristen Asia yang telah mempercayakan Sulut menjadi lokasi pelaksanaan Asian Ecumenical Youth Assembly 2018.

“Saya selaku Pemerintah Provinsi dan atas nama masyarakat mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi tinggi atas kepercayaan yang diberikan kepada Provinsi Sulut untuk menjadi lokasi pelaksanaan Asian Ecumenical Youth Assembly 2018,” tuturnya.

Selain itu, Olly menyatakan kesiapannya untuk menyelenggarakan event internasional yang lebih besar seperti Sidang Raya Dewan Gereja Sedunia pada Tahun 2020 mendatang.

“Jika diperkenankan, Sulut siap menjadi lokasi konferensi Gereja-Gereja sedunia,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Christian Conference of Asia (CCA) Dr Mathews George Chunakara menyatakan komitmen penuh CCA untuk mendukung lancarnya acara ekumenis utama yang terbuka secara eksklusif untuk anak muda Kristen Asia.

“Kami sangat senang ikut memfasilitasi acara ekumenis utama yang terbuka secara eksklusif untuk anak muda Kristen Asia. Karena orang-orang Asia, terutama kaum muda, menghadapi banyak tantangan dalam kehidupan sehari-hari, itu adalah harapan dan doa tulus kami bahwa AEYA akan membantu setiap peserta untuk mendiskusikan dan merefleksikan masalah yang mereka hadapi dalam konteks mereka masing-masing,” katanya.

Chunakara menuturkan, tantangan yang dihadapi anak muda Kristen Asia saat ini berbeda dibandingkan dengan persoalan yang terjadi di masa lalu. Oleh karena itu, Chunakara berharap AEYA menjadi yang terdepan dalam menghadapinya.

“Isu-isu pemuda saat ini jauh berbeda dari apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Kami berharap AEYA akan secara efektif menangani beberapa masalah Asia yang paling relevan dan bertindak sebagai pendahulu untuk perubahan besar dalam beberapa hari mendatang,” tandasnya.

Pembukaan AEYA 2018 ini, secara resmi ditandai dengan pemukulan tetengkoren oleh Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, Cecep Herawan. Cecep menerangkan pemerintah pusat sangat mengapresiasi penyelenggaraan AEYA 2018 di Sulut.

Adapun sebanyak 17 negara Asia yang berpartisipasi mengikuti AEYA, yakni Indonesia, Malaysia, Hongkong, Kamboja, Myanmar, Bhutan, Jepang, Srilanka, Bangladesh, Korea, Australia, India, Pakistan, Filipina, Nepal, Taiwan dan New Zealand.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Gubernur Drs Steven O.E. Kandouw, Presiden Christian Conference of Asia (CCA) Pdt WTP Simarmata MA, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Pdt. Dr. Henriette Tabita Lebang, M.Th, The first Youth Secretary of CCA Bishop Dr. Soritua A.E. Nababan, Ketua Sinode GMIM Pdt. Dr. Hein Arina, Sekdaprov Edwin Silangen, SE, MS, Ketua TP PKK Sulut selaku Ketua Umum Panitia Ir. Rita Maya Dondokambey-Tamuntuan, Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat selaku Wakil Ketua Umum Panitia dr. Kartika Devi Kandouw-Tanos, MARS dan para pejabat Pemprov Sulut lainnya. (Advetorial)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.