Print This Post Print This Post
Home / Berita Pilihan / Polemik Belum Dibayar Pesangon, PT. Viola Fiber Internasional Bersama Eks Karyawan Tak Dapat Titik Temu

Polemik Belum Dibayar Pesangon, PT. Viola Fiber Internasional Bersama Eks Karyawan Tak Dapat Titik Temu

MITRA, Swarakawanua.com-Polemik belum dibayarkan pesangon kepada Mantan Karyawan PT. Viola Fiber Internasional, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) memfasilitasi. Bertempat di Kantor Disnaker, Kamis 22 September 2022.

Namun sangat disayangkan, hasil tersebut masih belum dapat titik temu. Pasalnya, dari pihak PT. Viola Fiber Internasional berikan dua pilihan kepada mantan Karyawannya.

Pilihan pertama, pihak perusahaan akan membayarkan pesangon 7 mantan karyawan PT Viola Fiber Internasional yang bergerak di usaha Pisang Abaka terletak perkebunan Tebu Desa Silian Satu.

“Kami telah memberikan 2 opsi yaitu, perta ma pembayarannya itu bertahap, setiap karyawan memiliki tahapan-tahapannya sendiri, seperti bulan ini sudah dibayarkan maka bulan kedua dan ketiga karyawan lain,” ujar Asisten Manajer PT Viola Fiber Internasional Dwi, saat dalam pertemuan tersebut.

Kedua, perusahan akan membayarkan Pesangon mantan karyawan secara bergantian setiap bulannya, misalnya karyawan A akan dibayarkan pada bulan Oktober maka karyawan B akan menunggu bulan setelahnya dan begitu seterusnya.

“Kemudian opsi kedua, kita membayarkan Pesangon full tapi bergilir, jadi misalnya karyawan ini bulan ini, dan bulan berikut karyawan lainnya, sampai selesai,” jelas Dwi.

Sementara itu, Mantan Karyawan di Perusahan PT Viola Fiber Internasional Julian Suparno saat diwawancara mengatakan, bahwa tawaran yang diberikan pihak perusahaan ini akan dipikirkan lagi.

“Kami datang hanya berdua, sedangkan tawaran itu tidak bisa diambil begitu saja harus dibicarakan dengan teman-teman, hari Senin pekan depan kami akan balik dan menyampaikan hasil pembicaraan kami,” ujar Julian saat diwawancarai.

Disisi lain, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Minahasa Tenggara Ferry Uway menjelaskan, apabila sudah disepakati tawaran yang diberikan perusahaan, namun dikemudian terjadi konflik lagi, maka permasalah akan diserahkan ke pihak Pemerintah Provinsi Sulut.

“Karena kami disini tidak punya untuk mengambil keputusan, pihak pemerintah Provinsi Sulawesi Utara yang mempunyai wewenang itu, kami disini hanya memfasilitasi saja,” ungkap Ferry Uway.(CIA)

About Charles Ruru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *