Telur Ayam di Pasaran Sulut Dipastikan Bebas dari Racun Dioksin

oleh -369 Dilihat
Kadis Perindag Sulut Jenny Karouwan.(Foto: dok/pri)
Kadis Perindag Sulut Jenny Karouwan.(Foto: dok/pri)
Kadis Perindag Sulut Jenny Karouwan.(Foto: dok/pri)

 

MANADO, Swarakawanua– Pemberitaan hangat di televisi nasional terkait telur beracun di Jawa a menimbulkan kekhawatiran bagi kalangan ibu rumah tangga. Seorang ibu yang berprofesi sebagai pembuat kue kering mengaku takut jika membeli telur ayam yang ternyata mengandung racun Dioksin. “Memang ada sedikit kekhawatiran jangan-jangan ada telur ayam beracun beredar di pasar. Karena sebagai masyarakat, tentu saja kita tidak bisa membedakan secara kasat mata mana yang sehat dan mana yang beracun,” ungkap Irene Christian, warga Minahasa.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut Ir Jenny Karouw MSi mengimbau warga untuk tidak perlu takut. Dia menjamin telur yang beredar di Sulut adalah telur yang sehat. “Telur ayam yang beredar di Sulut ada juga yang dipasok dari Surabaya. Tapi yang masuk pasti sudaj terseleksi, baru dikirim, jadi tidak sembarang. Dan itu secara rutin dilakukan pengujian,” ujarnya saat diwawancara wartawan.
Untuk telur yang beredar di pasaran di Sulut, lanjutnya, juga ada pengawasan dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). “Jadi meskipun ada pasokan dari Surabaya tapi dijamin. Apalagi sekarang ini Sidak tidak berhenti, termasuk Pemeriksaan barang kadaluarsa,” imbuhnya.
Sebagaimana diberitakan, ada penelitian LSM soal telur ayam terkontaminasi Dioksin di 2 desa di Jawa Timur (Jatim). Hasil penelitian menyebutkan sampel telur ayam kampung di Desa Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur mengandung kadar dioksin tinggi. Sampel penelitian telur ayam kampung itu diambil di dekat sebuah pabrik tahu di Sidoarjo yang membakar plastik sebagai bahan bakar.
Hasil studi ini dilakukan oleh jaringan global untuk advokasi kebijakan dan kesehatan lingkungan IPEN, bersama Arnika Association dan LSM Indonesia Nexus3 dan Ecoton. Studi itu dimuat dalam laporan ‘Limbah Plastik Meracuni Rantai Makanan Indonesia’. Dilansir dari liputan 6.com disebutkan, IPEN, jaringan kesehatan lingkungan global dari lebih 550 organisasi di 122 negara.
Dari studi, hasil pengumpulan dan analisis telur ayam kampung di Desa Bangun dan Tropodo, Jawa Timur, sampel telur ayam ini diambil di dekat pabrik tahu di Tropodo yang menggunakan plastik untuk bahan bakar. Selain itu, di Desa Bangun, warga membakar tumpukan sampah plastik untuk mengurangi volume tumpukan sampah di jalan dan sekitar rumah.
Telur yang dikumpulkan dari masyarakat ditemukan mengandung bahan kimia terlarang yang sangat berbahaya termasuk dioksin, zat penghambat nyala, dan PFOS yang merupakan bahan kimia yang beracun selamanya.

Hasil analisis menemukan konsentrasi dari dioksin, bifenil poliklorinasi (PCB), eter difenil polibrominasi (PBDEs), parafin terklorinasi rantai pendek (SCCP) dan perflurooctane sulfonate (PFOS) dalam tingkat tinggi pada sampel telur ayam kampung. Semua bahan kimia beracun ini diatur secaraglobal dalam konvensi Stockholm.

Orang dewasa yang memakan satu telur dari ayam kampung yang dilepas untuk mencari makan di sekitar pabrik tahu di Tropodo akan melebihi asupan harian yang ditoleransi (tolerable daily intake/TDI) oleh Otoritas Keamanan Makanan Eropa (EFSA) untuk dioksin terklorinasi sebanyak 70 kali lipat.

Sementara itu, telur yang dikumpulkan dekat tempat pembuangan plastik di Desa Bangun terkontaminasi oleh PFOS (bahan kimia yang “beracun selamanya”) yang diregulasi secara global pada konsentrasi yang sebanding dengan kawasan industri di Eropa.

Telur dari Tropodo dan Bangun mengandung SCCPs dan PBDEs, bahan kimia tahan api beracun yang digunakan dalam plastik. Berdasarkan penelitian, pajanan dioksin terkait dengan berbagai penyakit serius pada manusia, termasuk penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes dan endometriosis.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa sudah mengimbau masyarakat tidak perlu cemas dan khawatir mengonsumsi telur yang diproduksi peternak ayam petelur Jatim. Sebanyak 96,3 persen telur di Jawa Timur dihasilkan dari ayam ras petelur yang sudah menerapkan good farming practices, dan sisanya  3,7 persen telur dari ayam buras/kampung yang belum dikandangkan secara permanen, di antaranya ditemukan di  daerah Tropodo. “Untuk itu, masyarakat jangan khawatir karena telur dari Jatim sehat dan tidak mengandung racun,” terang Khofifah saat melakukan kunjungan ke Kelompok Telur Intan di Kecamatan Tumpang, Malang, Minggu, 17 November 2019, seperti dikutip dari keterangan tertulis.(lpe/gyp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.