Print This Post Print This Post
Home / Berita Pilihan / Tingginya Kasus Kekerasan Pada Anak di Bolmong, Dr Devi: Harus Gercep Agar Tak Terjadi Lagi

Tingginya Kasus Kekerasan Pada Anak di Bolmong, Dr Devi: Harus Gercep Agar Tak Terjadi Lagi

Tatap muka Kadis P3A Provinsi Dr Kartika Devi Kandouw-Tanos MARS di Desa Tiberias Kecamatan Poigar, Bolmong, Senin 12 Juli 2021.(Foto: ist)

 

POIGAR, Swarakawanua.com– Tingginya kasus kekerasan seksual pada anak di wilayah Bolmong, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Daerah Provinsi Sulawesi Utara Dr Kartika Devi Kandouw-Tanos MARS, langsung turun ke lokasi.
Senin 12 Juli 2021, Dr Devi bersama Kepala Dinas P3A Kabupaten Bolmong Hj Farida Mooduto SPd, Ketua TP PKK Kabupaten Bolmong Leslie Lanny Tuuk-Kaligis melakukan tatap muka bersama pemerintah Kecamatan Poigar, para sangadi di Kecamatan Poigar, pemerintah Desa Tiberias serta tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.

Dalam tatap muka terbatas di Aula Desa Tiberias Kecamatan Poigar Kabupaten Bolmong tersebut, Kadis P3A Kabupaten Bolmong, mengungkapkan, di kecamatan ini telah terjadi beberapa kasus kekerasan pada anak-anak yang korbannya perempuan. “Saya minta aparat perketat pos di desa. Kalau ada anak-anak perempuan masih di jalan di atas jam 10, agar ditanya mau ke mana. Karena terus terang kami sangat prihatin dan menyesal kenapa hal-hal tersebut bisa terjadi,” ungkapnya.
Ia pun mengatakan, pada tahu
2020 di era pandemi Covid-19, terjadi 163 kasus pada anak ataupun perempuan. “Di atas 50 persen adalah kekerasan pada anak. Kemudian hingga Juli 2021 ada 65 kasus. Dan ada 31 kasus yang khusus kekerasan seksual termasuk yang terjadi di Desa Tiberias.
Dari tahun 2019 yang ada 59 kasus lalu naik jadi 163 kasus pada tahun 2020, mungkin karena banyak diam di rumah,” ungkapnya.
Di sisi lain karena ada refocusing 2020, sehingga instansi yang dipimpinnya tidak ada kegiatan, termasuk dalam pendampingan. “Jadi satu hal yang menarik, ada rasa sedih karena apa yang diharapkan pemerintah belum sesuai dengan fakta. Bermohon dengan tingginya kasus kekerasan di Bolmong yang terdiri dari 500 desa dan 2 kelurahan, perkawinan usia dini tercatat ada 332 pada tahun 2020 termasuk di Poigar. Itu data dari Pengadilan Agama. Dan hingga Juli 2021, sudah ada 169 kasus perkawinan usia dini,” bebernya.
Menurutnya, Dinas P3A Kabupaten Bolmong juga sudah berusaha mendapatkan anggaran untuk menindaklanjuti maraknya fenomena perkawinan usia dini. “Kami berusaha melakukan pendekatan dengan TAPD dan kami mendapat anggaran untuk Puspaga. Kami lakukan konseling bagi pasangan yang akan menikah. Ada dari Capil, Dinkes, dan Dinsos memberikan konseling. Karena angka perceraian di kabupaten Bolmong cukup tinggi,” imbuhnya.
Berkaitan dengan kasus di kekerasan seksual pada anak di Poigar Bolmong, ada 1 kasus dengan tujuh pelaku, lalu 1 kasus dengan 12 pelaku. “Bolmong daerah yang luas. Kami berharap bisa di-push sosialisasi tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Banyak kasus KDRT karena ekonomi menurun,” tambahnya.

Sementara Dr Devi dalam sambutannya mengungkapkan tujuan kunjungan kerjanya tersebut. “Tujuan kunjungan kerja ini adalah dalam rangka memperingati HAN 2021 dengan tema Anak Terlindungi Indonesia Maju, Anak Terlindungi Sulut Maju, dan Anak Terlindungi Bolmong Maju,” ungkapnya.

Bolmong sendiri adalah kabupaten ketiga yang dikunjungi setelah ia menjabat Kadis P3A Provinsi. Yaitu selain launching vaksinasi anak kelompok usia 12-17 tahun di Kota Manado, kemudian di Kota Tomohon, dan ketiga Kabupaten Bolmong ini. “Saya juga prihatin, 65 kasus kekerasan pada anak yang dilaporkan ke UPTD. Ada juga yang dilapor ke Polres dan Polda. Dan 76 persen adalah perempuan. Terus terang desa ini bagus tetapi sangat disayangkan terjadi kasus-kasus yang sangat memprihatinkan. Saya sudah melapor ke ibu gubernur, dan berjanji saya akan all out. Makanya saya langsung ke lokasi terjadinya kasus kekerasan kepada anak,” ungkapnya.
Dalam tatap muka yang juga dihadiri Kapolsek Poigar, serta perwakilan perempuan dan TP PKK Kecamatan Poigar, Dr Devi mengungkapkan, dalam menangani persoalan tersebut, pihaknya bukan untuk menghakimi tetapi sama-sama mencari solusinya. “Kalau masalah hukum, tentu ada aparat kepolisian yang berwenang. Tapi kita di sini untuk mencari solusinya. Terutama tadi dijelaskan Kadis P3A Bolmong, lonjakan kasus kekerasan pada anak dari tahun 2019 ke 2020 sangat tinggi hampir 300 persen, terutama pada masa pandemi. Untuk itu saya ingin bertatap muka dengan bapak dan ibu karena hal ini tidak hanya bisa ditangani satu atau dua instansi saja, tetapi harus secara gotong royong, dari semua lini masyarakat. Dan harus gercep (gerak cepat), jangan sampai terjadi kasus-kasus berikutnya,” jelasnya memotivasi.

Sementara pihak pemerintah setempat mengungkapkan bagaimana upaya aparat salam menekan angka kekerasan pada anak. “Kami seringkali melakukan edukasi tetapi persoalan ini masih terjadi. Kami juga mengharapkan keterlibatan masyarakat khususnya. Karena persoalan kehidupan manusia ini apalagi zaman sekarang sangat canggih. Untuk kegiatan masyarakat kami tetap memantau. Kejadian kemarin kami sudah sering menyampaikan edukasi dan sosialisasi. Kami berterimakasih atas kedatangan Ibu Kadis di desa kami untuk memberikan solusi bagaimana anak-anak kami ke depan,” ungkap Sangadi Desa Tiberias.

Menanggapinya, Dr Devi memotivasi agar aparat pemerintahan setempat terus bekerja keras. “Kita harus kerja keras lagi untuk menekan angka kekerasan pada anak-anak. Saya turun di sini karena apa yang terjadi di desa itu menjadi tanggung jawab kabupaten, dan juga provinsi. Harus secara masif dan komprehensif untuk memberikan pemahaman atau sosialisasi, tidak hanya satu tahun satu kali. Pendekatannya bisa lewat pertemuan Dasa Wisma juga,” imbuhnya.

Dr Devi kemudian mengungkapkan program aplikasi DP3A Provinsi di handphone android Laker (Lapor Kekerasan). “Jadi siapapun bisa melaporkan kalau ada tindak kekerasan pada anak atau perempuan. Baik yang terjadi pada dirinya sendiri atau di sekelilingnya, tanpa diketahui identitasnya,” ungkap Dr Devi. Diakuinya, pada tahun 2020 program Laker agak tersendat karena refocusing. “Kami srmua sepakat Laker itu harus diaktifkan kembali. Karena itu juga bermanfaat menjaring terjadinya kekerasan pada perempuan,” pungkasnya.

Kadis P3A Bolmong menambahkan, pihaknya terus menempuh upaya sinergitas dengan beberapa instansi terkait. Mengenai kasus cabul yang terjadi di Desa Tiberias, pihaknya turut prihatin dan melakukan pendampingan terhadap korban. Di samping itu, DP3A Kabupaten Bolmong turut mengawal proses hukum terhadap kasus tersebut.(gyp)

 

About Peggy Sampouw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *