Universitas Sam Ratulangi Didorong Jadi Kampus Bersinar oleh Kepala BNN RI

oleh -154 Dilihat
Webinar bertajuk Gerakan Anti Narkoba, Kamis 5 Agustus 2021, yang dihadiri Kepala BNN RI dan juga Rektor Unsrat dan civitas akademika Unsrat.(Foto: ist)

 

MANADO, Swarakawanua.com— Luasnya wilayah Indonesia menjadi tantangan tersendiri dalam melakukan pengawasan peredaran gelap narkotika. Oleh sebab itu, Kepala BNN RI, Dr. Petrus Reinhard Golose menegaskan pentingnya peran serta seluruh masyarakat termasuk peran para dosen dan mahasiswa. “Melalui webinar ini saya meminta komitmen Ibu Rektor dan seluruh civitas akademika untuk menjadikan Universitas Sam Ratulangi sebagai Kampus Bersinar, Bersih Narkoba,” kata Dr. Petrus Reinhard Golose.

Saat memberikan materi seputar permasalahan peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika kepada para mahasiswa Universitas Sam Ratulangi dalam webinar bertajuk Gerakan Anti Narkoba, Kamis 5 Agustus 2021, Dr. Petrus Reinhard Golose dalam paparannya menjelaskan kondisi kejahatan narkotika baik di Indonesia maupun di dunia, serta menyampaikan berbagai data hasil penelitian yang telah dilakukan dan kebijakan BNN sebagai langkah steategis dalam menanggulangi peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika di Indonesia. “Sewaktu saya melakukan operasi di Amerika Selatan yang mereka takutkan yaitu narcoterrorism, dan kokain adalah jenis narkotika yang paling banyak digunakan di sana,” tutur Kepala BNN dalam webinar yang diikuti oleh Rektor Unsrat Prof. Dr. Ir. Ellen Joan Kumaat, M.Sc., DEA serta seratus ribu audience yang merupakan civitas akademika Universitas Sam Ratulangi.

Sementara itu, berbeda dengan Amerika Selatan yang didominasi oleh kokain, di Indonesia justru peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika didominasi oleh sabu atau methamphetamine. “Berdasarkan data UNODC 2020 setidaknya terdapat 115 ton methamphetamin telah disita di negara-negara Asia Tenggara pada tahun 2019,” jelas Dr. Petrus Reinhard Golose.

Lebih lanjut Jendral Bintang Tiga tersebut menyebutkan, untuk di Indonesia sampai dengan saat ini telah menyita 10 ton barang bukti narkotika baik BNN, Kepolisian dan lainnya, sementara untuk BNN sendiri sekitar 2 ton. “Bayangkan berapa orang yang akan terpapar kalau semua barang bukti narkotika ini beredar”, imbuh Kepala BNN.

Semua barang bukti narkotika yang masuk ke Indonesia tersebut dilakukan melalui tiga jalur yaitu darat, laut, dan udara. Namun dari ketiga jalur tersebut, Dr. Petrus Reinhard Golose menyebutkan bahwa 80% dan bahkan mungkin saat ini 90% penyelundupan dilakukan melalui jalur laut. Itulah sebabnya sehingga Kepala BNN RI, Dr. Petrus Reinhard Golose menegaskan pentingnya peran serta seluruh masyarakat termasuk peran para dosen dan mahasiswa dalam pengawasan peredaran gelap narkotika.(don)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.