Warga Desa Ratatotok Lapor Ke Kapolres Penyerobotan Lahan Dan Pencurian

oleh -842 Dilihat

MITRA, Swarawakanua.com– Warga Desa Ratatotok Satu, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) Steven Mamahit Curhat ke Kapolres AKBP Ferry Sitorus tentang, ancaman dan tindakan premanisme.

Dimana, persoalan ini terjadi di lahan diklaim di miliki secara turun temurun, yang sudah  diduduki oleh pihak tidak memiliki hak.

Menurut Steven, bukti dasar kepemilikan lahannya tercantum dalam surat ukur/gambar tanah kebun Desa Ratatotok Satu tanggal 8 April 1979. Dengan register desa bernomor 291/SU/IV/79. Atas nama Adri Mamahit. Luasnya kurang lebih 18 hektare. Selama ini, pemilik lahan juga rutin membayar pajak bumi dan bangunan (PBB) ke negara atas nama Didi Adri Mamahit.

Namun disini kami merasa aneh, kata Steven, berbagai upaya yang dilakukan untuk kembali mengambil alih lahan miliknya di Perkebunan Lobongan, Kabupaten Minahasa Tenggara itu, hingga saat ini masih menemui jalan buntu. Laporan polisi yang dilayangkan diduga tak mendapat respon.

“Namun persoalan ini tetap masih kami mempercayakan masalah ini kepada aparat penegak hukum (APH). Slogan Presisi yang dicetuskan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (Prediktif, Responsibilitas dan Transparansi serta Berkeadilan), diharapkannya, tak diabaikan oleh APH,” harap Steven, Senin 18 Juli 2022.

Stevenpun berharap, bantuan dari aparat penegak hukum untuk menangani kasus kami, mendapatkan keadilan dan tidak terjadi kekacauan. Selama ini kami juga tidak ada tindakan sekecilpun untuk melawan hukum.

“Pasalnya, saya heran sampai saat ini lahan perkebunan milik keluarganya sudah diduduki oleh orang lain dengan dasar SP3. Padahal lahan tersebut sudah dikelola sudah sejak lama oleh keluarganya, bahkan diakui pemerintah Desa Ratatotok,” tegasnya.

Lahan kami perkebunan Lobongan diakui pemerintah Desa Ratatotok, kami heran saat ini diduduki orang lain. Kami pun sudah buat laporan penyerobotan tanah tapi malah di SP3 oleh kepolisian dengan tidak jelas, lebih para dibiarkan premanisme memasukinya (lahan, red),” jelasnya.

Sebelumnya juga dia mengaku polisi sudah melakukan mediasi kedua pihak. Dalam mediasi tersebut disebutkan agar dibagi lahannya dan sebelumnya dalam surat keterangan yang dibuat di hadapan kepolisian Polres Mitra, ditekankan tidak boleh ada aktivitas maupun pendudukan lahan sebelum adanya putusan tersebut. Namun keputusan akhir menemukan jalan buntu.

Ditambahkan Steven, masakan dari pihak kepolisian minta kami berbagi lahan, itukan aneh. Itukan milik kami, kami tidak mau dan mediasi itu diterangkan untuk tidak ada aktivitas, tapi sekarang mereka beraktivitas di lahan milik keluarga saya, tapi aparat malah membiarkannya.

“Kami merasa kecewa, mereka semua menduduki lahan milik keluarga saya, bahkan pintu camp kami dirusak dan barang-barang kami berupa genset, kabel dan lampu ada pada mereka, itu jelas sudah mencuri namanya. Tapi apa? Tidak ada tindakan dari aparat untuk memberantas aksi premanisme ini,” tutup Steven. (CIA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.